Kamis, 20 Juni 2013

asuhan keperawatan sindrom nefrotik



BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

1.    Pengkajian
a.    Keluhan utama.
Mata bengkak dan edema di ektremitas, penambahan BB, wajah sembab, sesak nafas, acites, diare, anoreksia, mudah lelah dan letargi
b.    Riwayat penyakit dahulu.
Riwayat glomerulonefritis akut 1 bulan yang lalu
c.    Riwayat penyakit sekarang.
Badan bengkak, muka sembab, muntah, napsu makan menurun,  diare, urine menurun, hematuri.
d.   Riwayat kesehatan keluarga.
Tidak ada masalah
e.    Riwayat kehamilan dan persalinan
Tidak ada masalah
f.     Riwayat kesehatan lingkungan.
Tidak ada masalah
g.    Pengkajian persistem.
1.    Sistem pernapasan.
RR= 30 X/menit
2.    Sistem kardiovaskuler.
Nadi 80 X/mnt, tekanan darah 130/90 mmHg, 
3.    Sistem persarafan.
normal
4.    Sistem perkemihan.
Urine/24 jam 300 ml, hematuri, protenuri
5.    Sistem pencernaan.
Diare, anoreksia, mual muntah
6.    Sistem muskuloskeletal.
Malaise, keletihan
7.    Sistem integumen.
Edema periorbita dan ektremitas bawah, kulit pucat dan sembab, asites
8.    Sistem endokrin
Dalam batas normal
9.    Sistem reproduksi
Dalam batas normal.

2.         Analisa Data
DATA
ETIOLOGI
MASALAH KEPERAWATAN
DS. –

DO. Pasien edema periorbita, area ekstrimitas dan abdomen
Sindrom nefrotik

Hipoalbumin
 

tekanan onkotik turun dan tekanan hidrostatik naik
 

perpindahan cairan dari vaskuler ke interstitial
 

edema
Kelebihan volume cairan
DS. Pasien mengeluh mual, muntah, tidak nafsu makan

DO.
A(antropometri) : BB →15kg
Ditentukan dengan penghitungan Rumus status gizi anak:
BB anak__   x 100%
BB normal

BB normal = (umur x 2) + 8

B = (hasil lab)
-Hb=12,3 gr/dl
-albumin=3,5g/dl
-Hematokrit=36%
C = tidak nafsu makan, bibir kering, kondisi pasien lemah.
D = pasien hanya menghabiskan setengah porsi makanan, jenis diet : diet tinggi protein dan kalori
Sindrom nefrotik


 
Retensi cairan rongga perut
 

asites


 
menekan perut


 
mual dan muntah


 
nafsu makan menurun
Nutrisi kurang dari kebutuhan
DS: pasien malu terhadap tubuhnya
DO : pasien edema periorbita
Edema

Perubahan bentuk tubuh

Gangguan citra tubuh
Gangguan citra tubuh
DS : pasien mengeluh sesak napas, nafasnya cepat dan dangkal

DO : RR: meningkat 30 x/menit


Asites

Menekan diafragma

Ekspansi paru tidak maksimal


 
Dyspnea
Ketidakefektifan Pola Nafas


3.    Diagnosa Keperawatan
a.    Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kehilangan protein sekunder terhadap peningkatan permiabilitas glomerulus.
Tujuan :
Menunjukkan keseimbangan volume cairan tubuh
Kriteria Hasil :
Dalam 2x24 jam, pasien menunjukkan:
a)    Penurunan edema
b)   Protein urine normal
c)    Produksi urine >600 ml/hari

Intervensi
Rasional
Catat intake dan output secara akurat
Evaluasi harian keberhasilan terapi dan dasar penentuan tindakan
Kaji dan catat kadar protein urine
Untuk dijadikan indikator regimen terapi
Timbang berat badan tiap hari dalam skala yang sama
Estimasi penurunan edema tubuh
Berikan cairan secara hati-hati dan diet rendah garam
Mencegah edema bertambah berat

Diet protein 1-2 gr/kg BB/hari
Pembatasan protein bertujuan untuk meringankan beban kerja  hepar dan mencegah bertamabah rusaknya hemdinamik ginjal

b.    Perubahan nutrisi ruang dari kebutuhan berhubungan dengan malnutrisi sekunder terhadap kehilangan protein dan penurunan napsu makan.
Tujuan :
Menunjukkan pemenuhan nutrisi yang adekuat
Kriteria Hasil :
Dalam 2x24 jam, pasien menunjukkan
a)    Antropomerti
Berat badan normal (16kg)
b)   Biokimia :                                             
1)   Hb normal (laki-laki 13,5-18 g/dl dan perempuan 12-16 g/dl)
2)   Albumin normal (dewasa 3,5-5,0 g/dl)
c)    Klinis :
1)   Tidak tampak kurus
2)   Rambut tebal dan hitam
3)   Terdapat lipatan lemak subkutan
d)   Diet :
1)   Makan habis satu porsi
2)   Pola makan 3X/hari
Intervensi
Rasional
Kaji status nutrisi :
-          Perubahan berat badan
-          Pengukuran antrometrik
-          Nilai laboratorium (elektron serum, BUN., kreatinin, protein, transferin, dan kadar besi)
Menyediakan data dasar untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi


                
Catat gejala yang timbul setelah makan, seperti mual, muntah
Untuk mengetahui penyebab lain dari penurunan nafsu makan
Kaji pola dan kebiasaan makan pasien
Untuk menyesuaikan pola diet yang diberikan
Sajikan makanan yang menarik dan selalu hangat, porsi kecil tapi sering.
Makanan hangat merangsang peningkatan nafsu makan
Pemberian diet tinggi kalori rendah karbohidrat rendah garam.
Pemberian diet yang juga merupakan salah satu terapi harus selalu dipantau kandungan nutrisinya

c.       Gangguan Citra Tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan akibat odema
Tujuan: Individu menunjukkan penerimaan perubahan tubuhnya
Kriteria hasil : dalam 2x24 jam individu menunjukkan
1.             Gambaran diri baik
2.             Keseimbangan antara ke-adaan tubuh dan idealisme, serta perilaku
3.             Bisa menerima perubahan penampilan tubuh
4.             Menerima perubahan status kesehatan
Intervensi
Rasional
Bantu klien mendiskusikan perubahan yang terjadi karena penyakitnya
Beberapa pasien memandang situasi sebagai tantangan, beberapa sulit menerima perubahan hidup/penampilan peran dan kehilangan kemampuan control tubuh sendiri.
Bantu klien mendeskripsikan perubahan tubuh yang terjadi sering dan berikan dukungan positif.
Memberikan bantuan positif bila           perlu agar memungkinkan pasien merasa senang terhadap diri diri sendiri, menguatkan perilaku positif,  meningkatkan percaya diri.
Latih anak/klien untuk menggunakan fungsi tubuh sesuai kondisi
Untuk menyesuaikan diri klien terhadap perubahan yang terjadi.
Identifikasi koping keluarga dalam merespon perubahan kondisi klien
Koping keluarga yang efektif mampu membantu untuk mempertahankan perasaan harga diri klien.

a.       Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan ekspansi paru tidak maksimal
Tujuan: Dalam waktu 3x 24 jam tidak terjadi perubahan pola napas. Klien dapat bernapas normal.
Kriteria hasil:
Klien tidak sesak napas, RR dalam batas normal16- 20x/ menit, ekspansi dada normal

Intervensi
Rasional
Kaji frekuensi, irama, kedalaman pernafasan
Frekuensi, irama, dan kedalaman napas yang normal menunjukkan pola napas yang efektif
Auskultasi bunyi nafas
Mendengarkan suara napas klien normal atau tidak
Pantau penurunan bunyi nafas
Penurunan bunyi napas klien menunjukkan adanya gangguan pada jalan napas.
Pastikan kepatenan O2 binasal
Memenuhi kebutuhan oksigenasi klien
Berikan posisi yang nyaman : semi fowler
Posisi semi fowler mempermudah udara masuk sehingga klien dapat bernapas dengan optimal.
Berikan instruksi untuk latihan nafas dalam
Dengan latihan napas yang rutin, klien dapat terbiasa untuk napas dalam yang efektif.
Catat kemajuan yang ada pada klien tentang pernafasan
Sebagai indikator efektif atau tidakkah intervensi yang dilakukan perawat pada klien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar