Kamis, 20 Juni 2013

Asuhan Keperawatan Fraktur Femur



BAB 3
Asuhan Keperawatan

Kasus semu
Sdr. E berusia 17 tahun dibawa ke RSUA tanggal 1 April 2013 pada jam 14.23 WIB oleh keluarganya. Pasien mengatakan pada tanggal 17 Agustus 2012 yang lalu pernah jatuh dari sepeda motor, kemudian pasien dibawa ke dukun  pijat oleh keluarganya. Setelah dibawa ke dukun pijat pasien tidak kunjung sembuh tetapi tambah parah dan kaki membengkak. Pasien telah menjalani operasi pada tanggal 2 April 2013. Pada tanggal 11 April 2013 pasien mengatakan nyeri, skala nyeri 7, ekspresi wajah tampak meringis kesakitan, ekspresi wajah tegang, bingung saat ditanya perawatan luka post operasi. Dari hasil pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan TD: 110/70 mmHg, N:88 x/menit, S:36OC. Luka operasi pasien sepanjang 20 cm, jumlah jahitan 20, luka tampak basah tidak ada PUS, leukosit 8000H/mm3. Pasien mengatakan dalam beraktifitas tidak bisa mandiri dan membutuhkan bantuan orang lain, personal hygiene kurang, aktifitas pasien di bantu keluarga.

Asuhan Keperawatan
3.1 Pengkajian
Pengkajian meliputi :
a.       Identitas Pasien
Nama                              : Sdr. E
Umur                              : 17 tahun
Jenis kelamin                  : Laki-laki
Suku/Bangsa                  : Jawa / Indonesia
Status                             : Belum menikah
Pekerjaan                        : Wiraswasta
Pendidikan                     : SMA
Tanggal MRS                 : 1 April 2013
Diagnosa Medis             : Mal union fraktur femur sinistra post op ke -8
b.      Keluhan Utama : Pasien mengatakan kaki sebelah kirinya yang patah nyeri saat di gerakkan.
c.       Riwayat Perawatan Sekarang : Pasien mengatakan pada tanggal 17 Agustus 2012, pasien pernah jatuh dari sepeda motor, kemudian pasien dibawa ke dukun  pijat oleh keluarganya. Setelah dibawa ke dukun pijat kaki pasien tidak kunjung sembuh tetapi tambah parah, kaki membengkak, maka pada tanggal 1 April 2013 baru pasien dibawa ke RSUA pada jam 14.23 WIB oleh keluarganya. Kemudian dilakukan operasi pada tanggal 2 April 2013. Pada tanggal 11 April 2013 pasien mengatakan nyeri, skala nyeri 7, ekspresi wajah tampak meringis kesakitan,ekspresi wajah tegang,bingung saat di tanya perawatan luka post operasi, TD: 110/70 mmHg, N:88 x/menit, S:36OC. Luka operasi sepanjang 20 cm, jumlah jahitan 20, luka tampak basah tidak ada PUS, leukosit 8000H/mm3, pasien dalam mengatakan dalam beraktifitas tidak bisa mandiri dan membutuhkan bantuan orang lain dan alat. Dalam berjalan pasien masih menggunakan tongkat, personal hygiene kurang, aktifitas pasien di bantu keluarga.
d.      Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien sebelumnya tidak pernah mempunyai riwayat penyakit patah tulang seperti ini dan pasien juga belum pernah dirawat di Rumah Sakit, tidak mempunyai riwayat penyakit menular dan keturunan seperti DM, Hipertensi, TBC, hepatitis, dll.
e.       Riwayat Keperawatan Keluarga : Pasien mengatakan bahwa keluarganya tidak ada yang mempunyai penyakit seperti pasien dan keluarga pasien tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit menular seperti TBC dan hepatitis, penyakit keturunan seperti hipertensi dan DM.
f.       Pola Kebiasaan
1.      Pola Persepsi dan Manajemen
Keluarga pasien sangat mementingkan kesehatannya sehingga apabila sakit segera memeriksakan diri ke Puskesmas/dokter bahkan ke dukun terdekat.
a.       Sebelum dirawat : Pasien menggosok gigi sehari (2x setelah mandi dan 1x sebelum tidur). Mandi 2x dengan sabun dan ganti baju 2x.
b.      Saat dirawat  : klien jarang mandi, mandi hanya jika ada keluarga yang membantu
2. Pola Nutrisi
a.       Sebelum dirawat       :          
A =    BB : 63 kg
B = Albumin 3,5 dl
C =  Rambut bersih, tidak rontok, tidak mudah dicabut
  D = Pasien makan 3x sehari dengan porsi 1n piring habis (lauk, nasi, sayur) dan minum air putih + 8 gelas/hari.
b.      Saat dirawat  :          
A                   =          BB : 60 kg
B                   =          Hb : 14,4 gr/dl
C                   =          Rambut agak kotor, tidak rontok, tidak mudah dicabut
D                   =
- Nutrisi TKTP
- Pasien makan 3x sehari dengan porsi ½ piring habis (lauk, nasi, sayur) dan minum air putih + 8 gelas/hari.
3.      Pola Eliminasi
Sebelum dirawat  : Pasien BAB 1-2x sehari dengan konsistensi lembek warna kuning, bau khas, BAK 4-5x sehari, warna kuning jernih bau khas.
Saat dirawat :  Pasien BAB 1x sehari dengan konsistensi lembek warna kuning, bau khas, BAK 4-5x sehari, warna kuning jernih bau khas. Terakhir BAB tanggal 10 April 2008 hari Kamis.
4.      Pola Istirahat Tidur
Sebelum dirawat : Pasien tidur 7-8 jam sehari kadang-kadang tirud siang ½ - 1 jam sehari.
Saat dirawat :  Pasien tidur selama 5-6 jam karena nyeri pada kaki sebelah kiri dan tidak pernah tidur siang.
5.      Pola Aktivitas dan Latihan
                              Sebelum dirawat            :          
Aktivitas
0
1
2
3
4
Makan
Minum
Berpakaian
Toileting
Ambulasi
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
                              Saat dirawat       :          
Aktivitas
0
1
2
3
4
Makan
Minum
Berpakaian
Toileting
Ambulasi
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-

Keterangan :
0 : Mandiri             3          : Bantuan orang lain + alat
1 : Alat Bantu        4          : Bantu dengan bantuan
2 : Bantuan orang lain
Pasien mengatakan bila berubah posisi/beraktivitas kakinya terasa nyeri dan sakit.

6.      Pola Persepsi dan Kognitif
Sebelum dirawat : Penglihatan baik
Saat dirawat  :Antara telinga kanan dan kiri terdengar suara yang sama
Pembau : Normal, dapat membedakan antara bau busuk dan harum
Perasa : Normal, dapat membedakan rasa manis, asam, asin, pahit
Peraba : Normal, dapat membedakan pemukaan kasar dan halus
Kognitif : Pasien dan keluarga beranggapan bahwa kesehatannya akan membaik setelah mendapatkan perawatan dari RS. Pasien mengatakan kurang tahu cara perawatan luka operasi dirumah.

7.      Pola Persepsi dan Konsep Diri
Gambaran Diri : Pasien menerima keadaan dirinya yang mengalami patah tulang pada kakinya.
Ideal diri    :  Pasien menginginkan pasien bisa jalan dengan normal lagi.
Peran diri    :  Pasien seorang wiraswasta, setelah pasien sakit dan mengalami patah tulang seperti ini pasien tidak bisa melakukan aktivitas.
Identitas diri : Pasien dapat menyebutkan dirinya.
Harga Diri  :  Pasien merasa senang mendapat perawatan yang baik dari perawat.
8.      Pola Reproduksi Sexual
Pasien seorang laki-laki yang belum menikah.

9.      Pola koping-toleransi terhadap stress
Jika pasien mempunyai masalah, maka pasien selalu membicarakan dan merundingkan dengan keluarga.

10.  Pola Peran Hubungan
Hubungan antara pasien dan keluarga dengan petugas pelayanan kesehatan baik begitu pula hubungan dengan tetangganya.

11.  Pola kepercayaan dan Keyakinan
Pasien beragama Islam, pasien selama dirawat tidak pernah menjalankan ibadah sholat 5 waktu dan hanya berdoa agar penyakitnya cepat sembuh.

g.      Pemeriksaan Fisik
1.      Keadaan Umum           : Baik
2.      Tingkat Kesadaran       : Composmentis
3.      Vital Sign                     :          
TD        :           110/70 mmHg            
RR        :           20x /menit
N           :           88x /menit      
S           :           369 C
4.      Kepala  :           Mesochepal
Rambut :           Kurang bersih, hitam tidak mudah rontok, tidak mudah dicabut
 Mata       :         Simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, tidak mengalami gangguan penglihatan
Hidung :           Simetris, tidak ada polip
Telinga  :           Simetris, tidak ada serumen, tidak ada gangguan pendengaran
Muka    :           Ekspresi wajah tampak meringis kesakitan, ekspresi wajah tampak tegang, ekspresi wajah tampak bingung
Leher    :           Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada peningkatan JVP
5.      Paru-paru          :
I           : Ictus simetris ka/ki
P          : Vocal fremitus ka/ki sama
P          : Sonor ka/ki
A         : Tidak ada wheezing, tidak ada ronchi
6.      Jantung :
I           : Ictus cordis tidak tampak
P          : Ictus cordis teraba pada iga 4 dan 5
P          : Pekak
A         : Teratur, tidak ada murmur (53)
7.      Perut     :
I           : Perut datar
A         : Bunyi peristaltik 14 x/menit
P          : Tidak terdapat nyeri tekan pada daerah abdomen
P          : Tympani
8.      Genetalia          :           Tidak terpasang DC, bersih
9.      Anus                 :           Tidak ada hemoroid
10.  Ekstremitas       :          
        Atas     : Tidak ada oedema, terpasang infus RL 120 tetes/menit pada tangan
                    kiri, tidak ada lesi, CRT 2 detik.
        Bawah : Tidak ada oedema, akral tidak dingin, CRT 2 detik, terdapat
                    luka post operasi, panjang luka operasi 20 cm, terdapat 20 jahitan,
                    keadaan lukanya basah, tidak ada PUS, kesemutan
        Kulit    :          
        Turgor : Baik
        Warna : Kuning

h.    Data Penunjang
1.      Pemeriksaan laboratorium dilakukan tanggal 2 April 2013
               KIBC                       :        8.000 H/mm3 (3.500-10.000)
               HGM                        :        14,4 g/dl          (11,0-16,5)
               PLT                          :        228.000 H/mm3          (150.000-390.000)
               Pemeriksaan post op tanggal 3 April 2013
               Hb                            :        11,3 g/dl

2.      Therapy tanggal 11 April 2013
                Cipro 2 x 500 mg diberikan secara oral
                Asam mefenamat 2 x 50 mg secara oral
          Hasil Rongent
1.      Hasil rongent sebelum operasi : mal union fraktur femur sinistra

3.2 ANALISA DATA
No
Data
Etiologi
Masalah keperawatan
1.
DS :








DO :
Pasien mengatakan nyeri
P :   Nyeri saat melakukan aktivitas
Q :  Nyeri seperti dipukul-pukul
R :  Kaki sebelah kiri
S :  Skala 7
T :  Saat gerak sewaktu-waktu
-   Ekspresi wajah tampak meringis jika melakukan aktivitas.
-   Ekspresi wajah tampak tegang
TD  : 110/70 mmHg
N    : 88 x/menit
Fraktur femur tertutup


 
Malunion, non-union, dan delayed union


 
terapi bedah
 

kerusakan jaringan pasca operasi
 

nyeri





Nyeri
2.
DS :


DO :
Pasien mengatakan bekas luka operasi sudah agak kering
1.   Luka operasi sepanjang 20 cm
2.   Luka tampak agak kering tidak ada PUS dan darah.
S : 360C
N : 88 x/menit
3.   Leukosit : 8.000 H/mm3
Luka post operasi

Port de entry


 
Resiko infeksi
Resti infeksi
3.
DS :
Pasien mengatakan dalam beraktivitas pasien tidak bisa mandiri dan membutuhkan bantuan orang lain dan alat
Fraktur femur

Terputusnya hubungan tulang
 

Ketidakmampuan melakukan pergerakan kaki
 

Immobilisasi

Hambatan mobilitas fisik
4.
DS:

DO:  
Klien jarang mandi, mandi jika hanya dibantu keluarga.
Klien tampak lusuh. Rambut berantakan, baju tidak ganti
fraktur femur

Kelemahan fisik ekstrimitas bawah

Defisit perawatan diri
Defisit perawatan diri

3.3 Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri b.d kompresi saraf, kerusakan neuromuskuloskeletal, pergerakan fragmen tulang
2. Resiko infeksi b.d  port de entry luka pasca bedah,  pemasangan alat fiksasi invasive
3. Hambatan mobilitas fisik b.d kerusakan muskuloskeletal, pergerakan fragmen tulang
3.4 intervensi
Nyeri b.d kompresi saraf, kerusakan neuromuskuloskeletal, pergerakan fragmen tulang
Tujuan : dalam waktu 2x24 jam nyeri berkurang atau teradaptasi
1.         Kriteria Hasil : Pasien menyatakan nyeri berkurang
2.         Skala nyeri 0-1 (0-5)
3.         Dapat mengidentifikasikan aktifitas yang dapat menurunkan nyeri
4.         Pasien tidak gelisah
Intervensi
Rasional
Kaji nyeri dengan skala 0-4
Nyeri merupakan respons subyektif yang dapat dikaji dengan menggunakan skala nyeri. Klien melaporkan nyeri biasanya di atas tingkat cedera
Lakukan manajemen nyeri keperawatan
1. atur posisi immobilisasi pada paha
Immobilisasi yang adekuat dapat mengurangi pergerakan fragmen tulang yang menjadi unsur utama penyebab nyeri pada paha.
2. manajemen lingkungan: lingkungan tenang, batasi pengunjung, dan istirahatkan klien
Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan membantu meningkatkan kondisi o2 ruangan
3. Ajarkan teknik relaksasi pernapasan dalam ketika nyeri muncul.
Meningkatkan asupan O2 sehingga akan menurunkan nyeri sekunder akibat iskemia
4. Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri
Distraksi (pengalihan perhatian) dapat menurunkan stimulus internal dengan mekanisme peningkatan produksi endorfin dan enkefalin yang dapat memblok reseptor nyeri agar tidak dikirimkan ke korteks serebri sehingga menurunkan presepsi nyeri
5. Lakukan manajemen sentuhan
Manajemen sentuhan pa. da saat nyeri berupa sentuhan dukungan psikologis dapat membantu menurunkan nyeri. Masase ringan dapat meningkatkan aliran darah dan membantu suplai darah dan oksigen ke area nyeri.
6. Berikan kesempatan waktu istirahat jika terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman, misalnya waktu tidur, bagian belakangnya dipasang bantal kecil
Istirahat akan merelaksasikan semua jaringan sehingga meningkatkan kenyamanan
Kolaborasi
pemberian analgetik
Analgesik memblok lintasan nyeri sehingga nyeri akan berkurang
pemasngan traksi tulang
Traksi yang efektif akan memberikan dampak pada penurunan pergeseran fragmen tulang dan memberikan posisi yang baik untuk penyatuan tulang
Operasi untuk pemasangan fiksasi interna
Fiksasi interna dapat membantu imobilisasi fraktur femur sehingga pergerakan fragmen berkurang.


Resiko infeksi b.d  port de entry luka pasca bedah,  pemasangan alat fiksasi invasive
Tujuan: dalam waktu 12x24 jam terjadi perbaikan pada intregitas jaringan lunak dan tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil:
1.      pada hari ke-12 tidak ada tanda-tanda infeksi dan peradangan pada area luka pembedahan.
2.      Leukosit dalam batas normal
3.      Ttv dalam batas normal
Intervensi
Rasional
Kaji faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya infeksi yang masuk ke port de entree
Faktor port de entree fraktur femur adalahluka terbuka dari fraktur, luka pasca-bedah, sisi luka dari traksi tualng, setiap sisi besi pada fiksasi eksterna. Faktor-faktor ini ini harus dipantau oleh perawat dan dilakukan perawatan luka steril
Lakukan perawatan luka secara steril
Teknik perawatan luka secara steril dapat mengurangi kontaminasi kuman
Pantau/ batasi kunjungan
Mengurangi resiko kontak infeksi dari orang lain
Tingkatkan asupan nutrisi tinggi kalori dan protein
Meningkatkan imunitas tubuh secara umum dan membantu menurunkan resiko infeksi
Bantu perawatan diri dan keterbatasan aktivitas sesuai toleransi. Bantu program latihan
Menunjukkan kemampuan secara umum dan kekuatan otot dan meransang pengembalian sistem imun
Kolaborasi:
Beri antibiotik sesuai indikasi
Satu atau beberapa agens diberikan yang bergantung pada sifat patogen dan infeksi yang terjadi.

Hambatan mobilitas fisik b.d kerusakan muskuloskeletal, pergerakan fragmen tulang
Tujuan : dalam 2 x 24 jam pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal meski degan bantuan.
Kriteria hasil :
1.      penampilan yang seimbang.
2.      melakukan pergerakkan dan perpindahan.
3.      mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi, dengan karakteristik :
0 = mandiri penuh
1 = memerlukan alat Bantu.
2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran.
3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu.
4 = ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas.

Intervensi
Rasional
Kaji mobilitas yang ada dan observasi peningkatan kerusakan . kaji secara teraur fungsi motorik
Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas
Atur posisi imobilisasi pada paha
Imobilisasi yang adekuat dapat mengurangi pergerakan fragmen tulang yang menjadi unsur utama penyebab nyeri pada paha
Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstremitas yang tidak sakit
Gerakan aktif memberikan massa, tonus, dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan
Bantu klien melakukan latihan rom, perawatan diri sesuai  toleransi
Untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai kemampuan
Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien
Peningkatan kemampuan dalam mobilisasi ekstremitas dapat dicapai dengan latihan fisik dari tim ahli fisioterapi

Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan kelemahan fisik ekstremitas bawah
Tujuan: dalam waktu 2x24 jam, klien dapat menunjukkan perubahan gaya hidup untuk kebutuhan merawat diri
Kriteria hasil: klien mampu melakukan aktifitas perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan, mengidentifikasi personel yang dapat membantu
Intervensi
Rasional
Kaji kemampuan dan tingkat penurunan dalam melakukan ADL
Membantu dalam mengantipasi dan merencanakan pertemuan kebutuhan individual 
Hindari apa yang tidak bisa dilakukan klien dan bantu jika perlu
Klien dalam keadaan cemas dan bergantung, hal ini dilakukan untuk mencegah frustasi dan meningkatkan harga diri klien
Dekatkan alat dan sarana yang dibutuhkan klien
Memudahkan klien dan meningkatkan kemandirian klien
Pertahankan dukungan pola pikir, izinkan klien melakukan tugas , beri umpan balik positif untuk usahanya
Meningkatkan harga diri klien, memandirikan klien, dan menganjurkan klien terus mencoba
Identifikasi kebiasaan defekasi , anjurkan minum dan tingkatkan aktifitas
Meningkatkan latihan dan menolong mencegah konstipasi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar